Powered by Blogger.

Renungan Kehidupan Khalil Gibran I

Posted by CitraCiki

Alam & Manusia 
Aku mendengar anak sungai merintih bagai seorang janda yang menangis meratapi kematian
anaknya dan aku kemudian bertanya,
"Mengapa engkau menangis, sungaiku yang jernih?'
Dan sungai itu menjawab,
'Sebab aku dipaksa mengalir ke kota tempat Manusia merendahkan dan menyia-nyiakan diriku
dan menjadikanku minuman-minuman keras dan mereka memperalatkanku bagai pembersih sampah,
meracuni kemurnianku dan mengubah sifat-sifatku yang baik menjadi sifat-sifat buruk."
Dan aku mendengar burung-burung menangis,
dan aku bertanya,
"Mengapa engkau menangis, burung-burungku yang cantik?"
Dan salah satu dari burung itu terbang mendekatiku,
dan hinggap di hujung sebuah cabang pohon dan berkata,
"Anak-anak Adam akan segera datang di ladang ini dengan membawa senjata-senjata pembunuh
dan menyerang kami seolah-olah kami adalah musuhnya.
Kami sekarang terpisah di antara satu sama yang lain,
sebab kami tidak tahu siapa di antara kami yang bisa selamat dari kejahatan manusia.
Ajal memburu kami ke mana pun kami pergi.
"Kini, matahari terbit dari balik puncak pergunungan, dan menyinari puncak-puncak
pepohonan dengan rona mahkota.
Kupandangi keindahan ini dan aku bertanya kepada diriku sendiri,
"Mengapa manusia mesti menghancurkan segala karya yang telah diciptakan oleh alam?" 

Falsafah Hidup
Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat-keinginan
adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan. Dan pengetahuan adalah hampa jika tidak
diikuti pelajaran. Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta 

Hidup 
Kehidupan merupakan sebuah pulau di lautan kesepian, dan bagi pulau itu
bukti karang yang timbul merupakan harapan, pohon merupakan impian, bunga
merupakan keheningan perasaan, dan sungai merupakan damba kehausan.
Hidupmu, wahai saudara-saudaraku, laksana pulau yang terpisah dari pulau
dan daerah lain. Entah berapa banyak kapal yang bertolak dari pantaimu
menuju wilayah lain, entah berapa banyak armada yang berlabuh di pesisirmu,
namun engkau tetap pulau yang sunyi, menderita kerana pedihnya sepi dan
dambaan terhadap kebahagiaan. Engkau tak dikenal oleh sesama insan, lagi
pula terpencil dari keakraban dan perhatian.

Saudaraku, kulihat engkau duduk di atas bukit emas serta menikmati
kekayaanmu -bangga akan hartamu, dan yakin bahawa setiap genggam emas
yang kau kumpulkan merupakan mata rantai yang menghubungkan hasrat dan
fikiran orang lain dengan dirimu.
Di mata hatiku engkau kelihatan bagaikan panglima besar yang memimpin bala
tentara, hendak menggempur benteng musuh. Tapi setelah kuamati lagi, yang
nampak hanya hati hampa belaka, yang tertempel di balik longgok emasmu,
bagaikan seekor burung kehausan dalam sangkar emas dengan wadah air yang
kosong.
Kulihat engkau, saudaraku, duduk di atas singgah sana agung; di sekelilingmu
berdiri rakyatmu yang memuji-muji keagunganmu, menyanyikan lagu
penghormatan bagi karyamu yang mengagumkan, memuji kebijaksanaanmu,
memandangmu seakan-akan nabi yang mulia, bahkan jiwa mereka melambung
kesukaan sampai ke langit-langit angkasa.
Dan ketika engkau memandang kelilingmu, terlukislah pada wajahmu
kebahagiaan, kekuasaan, dan kejayaan, seakan-akan engkau adalah nyawa bagi
raga mereka.
Tapi bila kupandang lagi, kelihatan engkau seorang diri dalam kesepian,
berdiri di samping singgahsanamu, menadahkan tangan ke segala arah,
seakan-akan memohon belas kasihan dan pertolongan dari roh-roh yang tak
nampak -mengemis perlindungan, kerana tersisih dari persahabatan dan
kehangatan persaudaraan.
Kulihat dirimu, saudaraku, yang sedang mabuk asmara pada wanita jelita,
menyerahkan hatimu pada paras kecantikannya. Ketika kulihat ia
memandangmu dengan kelembutan dan kasih keibuan, aku berkata dalam hati,
"Terpujilah cinta yang mampu mengisi kesepian pria ini dan mengakrabkan
hatinya dengan hati manusia lain."

Namun, bilamana kuamati lagi, di sebalik hatimu yang bersalut cinta terdapat
hati lain yang kesunyian, meratap hendak menyatakan cintanya pada wanita;
dan di sebalik jiwamu yang sarat cinta, terdapat jiwa lain yang hampa,
bagaikan awan yang mengembara, menjadi titik-titik air mata kekasihmu...

Hidupmu, wahai saudaraku, merupakan tempat tinggal sunyi yang terpisah
dari wilayah penempatan orang lain, bagaikan ruang tengah rumah yang
tertutup dari pandangan mata tetangga. Seandainya rumahmu tersalut oleh
kegelapan, sinar lampu tetanggamu tak dapat masuk meneranginya. Jika
kosong dari persediaan kemarau, isi gudang tetanggamu tak dapat mengisinya.
Jika rumahmu berdiri di atas gurun, engkau tak dapat memindahkannya ke
halaman orang lain, yang telah diolah dan ditanami oleh tangan orang lain. Jika
rumahmu berdiri di atas puncak gunung, engkau tak dapat memindahkannya
atas lembah, kerana lerengnya tak dapat ditempuh oleh kaki manusia.
Kehidupanmu, saudaraku, dibaluti oleh kesunyian, dan jika bukan kerana
kesepian dan kesunyian itu, engkau bukanlah engkau, dan aku bukanlah aku.
Jika bukan kerana kesepian dan kesunyian itu, aku akan percaya kiranya aku
memandang wajahmu, itulah wajahku sendiri yang sedang memandang cermin. 

Hutang Kehidupan 
Periksalah buku kenanganmu semalam, dan engkau akan tahu bahwa engkau masih berhutang
kepada manusia dan kehidupan.

Advertisements

Related Post



Post a Comment