Powered by Blogger.

Kata-Kata Bijak Peribahasa Latin

Posted by CitraCiki

Sebuah peribahasa Latin tampak relevan dengan dunia global kini yang disesaki barang serba-sintetis, serba-instan. Quod natura non sunt turpia. Sesuatu yang alamiah tak dapat dibilang buruk. Sesuatu yang tak melawan alam cenderung mempertahankan hal yang baik sepanjang zaman.

Selain itu, manusia mencoba menanggapi kehidupan di dunia ini dengan perilakunya yang rasional dan tindakannya yang bersumber kepada kehendak bebas. Namun, tampaknya tak ada yang baru di bawah sinar mentari. Sejarah sering terulang. Karena itu Cicero mengatakan, Historia magistra vitae, sejarah adalah guru kehidupan. Versi lebih lengkap: Historia est testis temporum, lux veritatis, vita memoria, magistra vitae, nuntia vetustatis. (M. Tullius Cicero, De Oratore 2.36). Sejarah adalah tanda zaman, cahaya kebenaran, kehidupan ingatan, guru kehidupan, utusan zaman purba.
Berdasarkan jalan pikiran ini, perkenankan kami sajikan kepada pembaca sejumlah peribahasa Latin, terbanyak berasal dari abad pertengahan.

Bella gerant allii, tu felix Austria nube. Silahkan orang lain memimpin perang, dikau Austria yang berbahagia, kawinlah.”
 
Bellum se ipsum alet. Perang akan memenuhi kebutuhannya sendiri.
 
Bene diagnoscitur, bene curatur. Yang didiagnosis dengan baik akan diobati dengan baik.
 
Bene qui latuit bene vixit. (Ovid, Tristia, III.iv.25). Yang hidup baik adalah orang yang hidupnya tak menjadi pusat perhatian orang.”
 
Bis dat, qui cito dat. (Publilius Syrus). Siapa yang memberi tepat waktu memberi dua kali.
 
Bis repetita non placent. (Horace, Ars Poetica 365). Pengulangan (repetisi) tidak diterima dengan baik.
 
Bona diagnosis, bona curatio. Diagnosis baik, pengobatan baik.
 
Bona valetudo melior est quam maximae divitiae. Kesehatan yang baik lebih berharga daripada kekayaan terbesar.
(Sumber: en.wikiquote.org)
 
Damnant quod non intellegunt. (Anonim, tapi lihat Quintillian Institutions 10.1.20). Mereka mempersalahkan apa yang mereka tidak mengerti.
 
Eget semper qui avarus est. (St. Jerome). Orang yang rakus selalu menginginkan lebih banyak. Orang yang serakah tak pernah terpuaskan kebutuhannya.
 
Feliciter sapit qui periculo alieno sapit. (Plautus, Mercator 4.7.40). Orang bijak bergembira karena belajar dari bahaya yang dialami orang lain.
 
Improbe Neptunum accusat qui iterum naufragium facit. (Publilius Syrus, Sententia 264). Orang yang menenggelamkan kapal dua kali mempersalahkan (dewa energi) Neptunus secara tak wajar.
 
Iracundiam qui vincit, hostem superat maximum. (Publilius Syrus, 251). Orang yang menaklukkan kemarahannya menang atas musuh terbesar.
 
Ius summum saepe summa est malitia. (Terrence, Timoroumenos, 796). Hukum yang tertinggi sering menimbulkan keburukan yang terbesar.
 
Male secum agit aeger, medicum qui heredem facit. (Publilius Syrus, Sententia 626). Buruklah bagi seorang yang sakit yang memilih dokter menjadi ahli warisnya.
 
Non bene flat flammam qui continent ore farinam. (Abad Pertengahan). Orang yang tidak tidak meniup api dengan baik adalah yang mengunyah tepung di mulutnya.
 
Non omnes qui habent cithram sunt citharoedi. (Varro, De Re Rustica, 2.1.3). Bukan semua yang memiliki sitar adalah pemain sitar.
 
Occasio aegre offertur, facile amittitur. (Publilius Syrus, Sententia 449). Kesempatan yang tepat jarang datang dan gampang terlepas (kita mudah kehilangan kesempatan yang tepat itu).
 
Pericla timidus etiam quae non sunt videt. (Publilius Syrus, Sententia 452). Orang yang takut bahkan melihat bahaya yang tidak ada.
 
Qui fugit molam, fugit farinam. (Anonim). Orang yang lari dari penggiling akan meninggalkan pula tepung. Artinya, orang yang tak mau bekerja tak akan memperoleh nafkah.
 
Quot campo lepores, tot sunt in amore dolores. (Abad Pertengahan). Ada sama banyak masalah dalam percintaan seperti jumlah kelinci di ladang.
 
Se damnat iudex, innocentem qui opprimit. (Plublilius Syrus, Sententia (614). Hakim yang menghukum orang yang tak bersalah merasa salah sendiri.
 
Spina etiam grata est, ex qua spectatur rosa. (Publilius Syrus, Sententia 610). Bahkan melalui semak berduri terlihat bunga mawar.

Stultus nil celat; quod habet sub corde revelat. (Abad Pertengahan). Orang yang bodoh tak menyembunyikan apa pun, ia mengungkapkan semua isi hatinya.

Sua multi amittunt, cupide dum aliena appetunt. (Anonim). Mereka yang menginginkan milik orang lain kehilangan miliknya sendiri.

Thesaurum in sepulchro ponit, qui senem heredem facit. (Publilius Syrus, Sententia 626). Seorang yang memilih orang tua sebagai ahli warisnya menaruh hartanya di dalam kubur.

Ubi iudicat qui accusat, vis, non lex, valet. (Publilius Syrus, Sententia 692). Di mana orang yang menuduh juga menjadi hakim, pemenangnya bukanlah hukum tapi kekuasaan.

Vespere promittunt multi quod mane recusant. (Abad Pertengahan). Mereka yang membuat banyak janji di malam hari mengingkarinya di pagi hari. 

Advertisements

Related Post



Post a Comment